nasional 2
Tahun 2030 Jumlah Penduduk Usia Produktif Capai 180 Juta
Indonesia tengah menikmati perjalanan bonus
demografi dimana jumlah penduduk usia produktif akan terus meningkat
dari tahun ke tahun. Pada puncak bonus demografi yakni tahun 2030,
jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 180 juta jiwa.
Besarnya proporsi penduduk usia produktif tersebut kata Kepala BKKBN
Fasli Jalal dengan sendirinya akan menurunkan rasio ketergantungan
penduduk. Artinya rasio tanggungan penduduk usia produkif terhadap
penduduk usia lansia dan balita makin mengecil.
“Pada puncak bonus demografi tahun 2030, diperkirakan rasio
ketergantungan penduduk berkisar antara 44 hingga 46 persen,” papar
Fasli, kemarin.
Dengan rasio 44-46 persen, maka setiap 100 ribu penduduk usia produktif hanya akan menanggung 44-46 penduduk lansia atau balita.
Menurut Fasli besarnya jumlah angkatan kerja pada puncak bonus
demografi tidak serta merta menjadi sumberdaya pembangunan untuk
meningkatkan kesejahteraan penduduk. “Sepanjang kita tidak bisa
memanfaatkan besarnya angkatan kerja tersebut, tentu bonus demografi
akan menjadi sesuatu yang sia-sia,” lanjutnya.
Setidaknya ada 4 syarat yang harus dipenuhi agar bonus demografi
mampu membawa perubahan kesejahteraan penduduk. Yakni penduduk harus
berkualitas dengan pendidikan yang memadai, penduduk usia produktif
harus terserap dalam pasar kerja, meningkatnya tabungan ditingkat rumah
tangga serta meningkatnya jumlah perempuan yang masuk dalam pasar kerja.
Dari sisi kualitas penduduk usia produktif lanjut Fasli, Indonesia
saat ini masih menghadapi rata-rata lama sekolah yang masih sangat
rendah yakni 5,8 tahun. “Diperkirakan lebih dari separuh penduduk tidak
menyelesaikan pendidikan SD, dan itu tercermin dari proporsi angkatan
kerja yang didominasi pendidikan SD,” lanjut Fasli.
Agar bonus demografi dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya
hingga mencapai puncak window of opportunity menurut Fasli seluruh
kebijakan pembangunan nasional hendaknya dapat bersinergi dan diarahkan
secara konstruktif. Antara lain melalui pengendalian kelahiran,
revitalisasi program KB agar angka kelahiran total bisa diturunkan
sehingga memberikan peluang lebih besar pada perempuan untuk masuk ke
lapangan kerja.
Di sisi lain, pendidikan harus lebih serius menangani angka drop out
sekolah, meningkatkan program wajib belajar lebih dari 12 tahun, dan
mengarahkan pendidikan lebih kepada pendidikan vokasional (kejuruan)
sehingga tercipta iklim entrepreneurship
0 komentar: